|
H. Alasan JRSP memilih kegiatan Sosialisasi dalam bentuk Jambore dengan maksud : 1. Untuk menciptakan suasana santai, segar, gembira dan akrab di antara para peserta jamboree, dengan demikian diharapkan semua pesan dapat tersampaikan dengan baik dan cepat dipahami. 2. Materi dapat dibawakan dengan cara relaks tanpa beban kelas . 3. Dalam kegiatan pelengkap Api Unggun, materi disajikan dalam bentuk pertunjukan kesenian, teater atau happening art dan pembacaan puisi. 4. Mendorong suasana hangat untuk interaktif dan diskusi antara sesama peserta, sehingga dapat menghasilkan hasil akhir yang maksimal sebagaimana yang menjadi target ideal Jamboree. 5. Menumbuhkan kesan yang mendalam (empati) di kalangan para peserta Jamboree, sehingga pesan tentang tatacara menjadi buruh migrant dengan legal dan berdokumen lengkap dapat dipahami oleh semua peserta jamboree. 6. Menanamkan wawasan tentang bahaya Perdagangan Manusia atau Human Trafficking, sehingga mudah memotivasi dan mendorong penduduk Desa agar lebih peduli dan aktif ikut serta memberantas praktek-praktek Human trafficking di desanya. Dengan demikian dapat diharapkan seluruh desa menjadi peduli dan terdorong untuk menjaga anggota keluarga, kerabat atau teman sedesanya agar tidak terperangkap para calo perekrut Tenaga kerja illegal. 7. Mendorong seluruh peserta untuk mencari bentuk kegiatan yang paling cocok bagi desa mereka untuk menyebar luaskan atau mensosialisasikan tentang bahaya Human Trafficking dan atau Perbudakan Modern, agar semua lapisan penduduk desa mau peduli serta aktif memberantas praktek Human Trafficking di desanya. i, Peserta dan Tamu yang hadir. Jumlah peserta yang hadir lebih dari 500 orang dengan latar belakang : - Para Pengelola Rakom JRSP - Para Penyiar Rakom JRSP - Perwakilan Pendengar setia Rakom JRSP termasuk Pramuka. - Perwakilan Ketua Kelompok Petani anggota Majelis Keluarga Petani Mandiri Indonesia (MKPMI) yang menjadi pendengar setia Radio Komunitas anggota JRSP. - Perwakilan Kepala-kepala Desa dan sejumlah perwakilan Camat - yang menjadi penasihat Rakom-rakom setempat. - Perwakilan Organisasi Wanita Desa yang menjadi pendengar setia Rakom JRSP. - Perwakilan Pramuka dan Karang Taruna serta Sanggar-sanggar kegiatan Pemuda Desa Jumlah pengeluaran calon buruh migran pada tahun 2005 baik berupa biaya resmi atau pungutan tidak resmi. Menurut, Pak Karto, dia terpaksa menjual sepetak sawah dan seekor sapi untuk menutup semua biaya. Tetapi ternyata Tarsiem cuma menjadi PRT di Malaysia. Padahal tahun 2005 lalu pungutan tidak resmi dan biaya resmi yang harus dibayar pak Karto tercantum di bawah ini: 1. Tip untuk Pak Samun Rp.1.000.000 dan Tip untuk Bejo Rp.500.000, dibayar tunai. 2. Biaya kelengkapan surat-surat (KTP, KK, Surat Keterangan RT/RW dan Keluarahan, legalisasi ijazah SD), menghabiskan Rp. 750.000,- yang dibayar melalui orang yang “menolong” mengurusnya. 3. Biaya penampungan di asrama Jakarta sebesar Rp.1.200.000 yang harus dibayar kepada, Perusahaan Pengerah tenaga kerja yang bersangkutan. 4. Biaya pelatihan Rp.750.000,- dibayar kepada Perusahaan Pengerah yang bersangkutan 5. Biaya pembuatan passport Rp.700.000,- 6. Biaya pembelian tiket ke Malaysia : 70 dollar Singapur. 7. Biaya test uji kompetensi Rp.90.000,- ditambah Rp.50.000 apabila harus mengulang.test tersebut. 8. Biaya untuk mengecek kesehatan Rp.100.000,- 9. Biaya untuk mengikuti acara pembekalan akhir Rp.100.000,- 10. Biaya asuransi Rp.400.000,- 11. Biaya perlindungan : 15 dollar US (disetor masuk ke rekening Dep Keu). 12. Biaya-biaya lain yang harus disetor ke Perusahaan Pengerah yang bersangkutan sebesar Rp.275.000,- 13. Transport Tarsiem dari desa ke Jakarta ditambah ongkos keluarganya mengantar Tarsiem sampai ke penampungan pulang pergi : Rp.800.000,- Menurut Pak Karto selain menjual Kerbau dan sepetak sawah, dia juga terpaksa berhutang kepada pak Samun Rp. 5 juta untuk menutupi semua pengeluaran di atas. Hutang itu dicicil dari pemotongan gaji Tarsiem. “Kalau tahu cuma jadi PRT, untuk apa jauh-jauh ke Malaysia, jadi PRT di Jakarta saja. Tidak perlu mengeluarkan biaya sampai puluhan juta”, demikian keluhan Pak Karto kepada salah satu Penyiar JRSP di Indramayu. Para Pengurus Wilkor JRSP dari Indramayu, Sumedang, Majalengka dan Cianjur, mensinyalir ada calo-calo berspesialisasi ”merekrut” anak-anak gadis yang masih muda belia dan lugu, mereka dijual untuk dijadikan PSK, baik di luar negeri maupun di daerah-daerah wisata di dalam negeri. |